Rabu, 13 Juni 2012

Menjalani untuk merasa

Ehm,
Segera setelah tes SNMPTN selesai, pengen rasanya segera bikin entry baru padahal dah ada draft yg belum ke publish, malah bikin baru.. -_-?  bodo amat :p

Kita harus mundur jauuh beberapa tahun yg lalu untuk menangkap arti dari cerita saya..
Oke, jadi gini, saya punya Pakde (kakak dari ibu), nama beliau Timan  just it, no surname ^ ~ 
Nah, kebetulan beliau masih belum dikaruniai anak, hingga saat ini. Naah, karena itulah beliau sangat sayang sama saya dan kakak saya, bahkan beliau sudah menganggap kami berdua anak kandung beliau. Singkat cerita, sepanjang ingatan saya, beliau seringkali bertindak jahil, dan menggoda saya hingga menangis oke, saya dulu emang agak cengeng dan kalau sudah begitu, maka nenek saya yang akan marah-marah, ^ ^;

Ada salah satu hal yg membuat saya menangis dan merajuk selama berhari-hari, bahkan masih teringat sampai sekarang. masalahnya sepele sih, tapi tidak untuk saya waktu itu -_-".
Waktu itu Pakde saya bertanya seperti ini,
"berapa nol ditambah nol?".
Tentu saja saya menjawab nol, Namun ternyata beliau menjawab seperti ini,
"Salah, nol tambah nol ya nolnol"  
oke, ini absurd dan jayus puol, itulah yg membuat saya merajuk waktu itu.
Tidak terima dengan jawaban absurd seperti itu, akhirnya saya pun nggak mau ngobrol dengan beliau selama bebrapa hari.

Ehem, oke, ke inti cerita eh, trus yang tadi prolog doang gitu? Yup, sekarang kita menuju bagian utama, waktu pun berlalu, dan tanpa saya sadari, waktu saya masih kelas XI di Insan Cendekia, kakak saya menikah, dan kemudian mempunyai anak saya bernama Muhammad Husni Mubarok, dan sekarang Husni sudah berumur dua tahun lebih, saat lucu-lucunya.



Naah.., seiring waktu berlalu, saya sendiri pun baru menyadari, betapa karena sayangnya saya dengan Husni, saya kadang terlaluan dalam menggodanya, bukan sekali dua kali Husni menangis karena ulah saya, dan kalu sudah begitu, neneknya (ibu saya) yang akan marah-marah. udah sadar sampai sini apa yang mau saya sampaikan? ^ ^

Ada dua hal yg bisa saya simpulkan dari dua cerita saya, yang pertama, baik pakde saya maupun saya, kami berdua sama-sama menggoda keponakan kami masing-masing ialah karena rasa sayang kami kepadanya dan sedikit rasa iri pada orangtuanya tentunya. Terselip pula rasa bangga karena kami sama-sama memiliki keponakan yang baik :3

Dan yang kedua, bahwa, baru setelah melihat, merasa dan menjalani dalam sudut pandang yang sama, barulah kita mengerti tentang sekelumit alasan atas tindakan orang lain. Meskipun ada sedikit orang yg bisa merasakan hal itu tanpa perlu menjalaninya.

Don't think it, feel it - BrusaE, Gekiranger

Salam, (^ ^);

Tidak ada komentar:

Posting Komentar